Senin, 14 Desember 2009

ETNOGRAFI

asal mula dan sejarah suku bangsa

Siapakah sesungguhnya Bangsa Indonesia? Ada banyak cara/versi untuk menerangkan jawaban atas pertanyaan tadi. Dari semua versi, keseluruhannnya berpendapat sama jika lelulur masyarakat Indonesia yang sekarang ini mendiami Nusantara adalah bangsa pendatang. Penelitian arkeologi dan ilmu genetika memberikan bukti kuat jika leluhur Bangsa Indonesia bermigrasi dari wilayah Asia ke wilayah Asia bagian Selatan. Masyarakat Indonesia mungkin banyak yang tidak menyadari apabila perbedaan warna kulit, suku, ataupun bahasa tidak menutupi fakta suatu bangsa yang memiliki rumpun sama, yaitu rumpun Austronesia. Jika melihat catatan penelitian dan kajian ilmiah tentang asal-usul suatu bangsa, apakah masyarakat Indonesia menyadari jika mereka berasal (keturunan) dari leluhur yang sama (satu rumpun)?

Topik dalam tulisan ini sebelumnya sudah sering dibahas di media cetak maupun elektronik, termasuk juga dituliskan oleh beberapa blogger. Sayang sekali di setiap penulisan tidak memberikan penegasan apapun kecuali hanya sekedar informasi umum. Pada prinsipnya, dengan menelusuri asal-usul suatu bangsa, setidaknya akan diketahui gambaran atas pemikiran, paham, ataupun anggapan tentang sikap suatu bangsa.

Menelusuri asal-usul suatu bangsa tidak sekedar membutuhkan bidang ilmu antropologi, akan tetapi sudah masuk ke dalam ranah ilmu genetika. Pada awalnya, penelurusuran hanya didasarkan pada bukti-bukti arkeologi dan pola penuturan bahasa. Temuan terbaru cukup mengejutkan karena merubah keseluruhan fakta di masa lalu jika selama ini leluhur Bangsa Indonesia bukan berasal dari Yunan.

Teori Awal Tentang Yunan
Teori awal tengan asal-usul Bangsa Indonesia dikemukakan oleh sejarawan kuno sekaligus arkeolog dari Austria, yaitu Robern Barron von Heine Geldern atau lebih dikenal von Heine Geldern (1885-1968). Berdasarkan kajian mendalam atas kebudayaan megalitik di Asia Tenggara dan beberapa wilayah di bagian Pasifik disimpulkan bahwa pada masa lampau telah terjadi perpindahan (migrasi) secara bergelombang dari Asia sebelah Utara menuju Asia bagian Selatan. Mereka ini kemudian mendiami wilayah berupa pulau-pulau yang terbentang dari Madagaskar (Afrika) sampai dengan Pulau Paskah (Chili), Taiwan, dan Selandia Baru yang selanjutnya wilayah tersebut dinamakan wilayah berkebudayaan Austronesia. Teori mengenai kebudayaan Austronesia dan neolitikum inilah yang sangat populer di kalangan antropolog untuk menjelaskan misteri migrasi bangsa-bangsa di masa neolitikum (2000 SM hingga 200 SM).

Teori von Heine Geldern tentang kebudayaan Austronesia mengilhami pemikiran tentang rumpun kebudayaan Yunan (Cina) yang masuk ke Asia bagian Selatan hingga Australia. Salah satunya pula yang melandasi pemikiran apabila leluhur Bangsa Indonesia berasal dari Yunan. Teori ini masih sangat lemah (kurang akurat) karena hanya didasarkan pada bukti-bukti kesamaan secara fisik seperti temuan benda-benda arkeologi ataupun kebudayaan megalitikum. Teori ini juga sangat mudah diperdebatkan setelah ditemukannya catatan-catatan sejarah di Borneo (Kalimantan), Sulawesi bagian Utara, dan Sumatera yang saling bertentangan dengan teori Out of Yunan. Sayangnya, masih banyak pendidikan dasar di Indonesia yang masih mempertahankan prinsip ‘Out of Yunan’.

Teori Linguistik
Teori mengenai asal-usul Bangsa Indonesia kemudian berpijak pada studi ilmu linguistik. Dari keseluruhan bahasa yang dipergunakan suku-suku di Nusantara memiliki rumpun yang sama, yaitu rumun Austronesia. Akar dari keseluruhan cabang bahasa yang digunakan leluhur yang menetap di wilayah Nusantara berasal dari rumpun Austronesia di Formosa atau dikenal dengan rumpun Taiwan. Teori linguistik membuka pemikiran baru tentang sejarah asal-usul Bangsa Indonsia yang disebut pendekatan ‘Out of Taiwan’. Teori ini dikemukakan oleh Harry Truman Simandjuntak yang selanjutnya mendasar teori moderen mengenai asal usul Bangsa Indonesia.

Pada prinsipnya, menurut pendekatan ilmu linguistik, asal-usul suatu bangsa dapat ditelusuri melalui pola penyebaran bahasanya. Pendekatan ilmu linguistik mendukung fakta penyebaran bangsa-bangsa rumpun Austronesia. Istilah Austronesia sendiri sesungguhnya mengacu pada pengertian bahasa penutur. Bukti arkeologi menjelaskan apabila keberadaan bangsa Austronesia di Kepulauan Formosa (Taiwan) sudah ada sejak 6000 tahun yang lalu. Dari kepulauan Formosa ini kemudian bangsa Austronesia menyebar ke Filipina, Indonesia, Madagaskar (Afrika), hingga ke wilayah Pasifik. Sekalipun demikian, pendekatan ilmu linguistik masih belum mampu menjawab misteri perpindahan dari Cina menuju Kepulauan Formosa.

Pendekatan Teori Genetika
Teori dengan pendekatan ‘Out of Taiwan’ nampaknya semakin kuat setelah disertai bukti-bukti berupa kecocokan genetika. Riset genetika yang dilakukan pada ribuan kromosom tidak menemukan kecocokan pola genetika dengan wilayah di Cina. Temuan ini tentunya cukup mengejutkan karena dianggap memutuskan dugaan gelombang migrasi yang berasal dari Cina, termasuk di antaranya pendekatan ‘Out of Yunan’. Sebaliknya, kecocokan pola genetika justru semakin memperkuat pendekatan ‘Out of Taiwan’ yang sebelumnya juga dijadikan dasar pemikiran arkeologi dengan pendekatan ilmu linguistik.

Dengan menggunakan pendekatan ilmu linguistik dan riset genetika, maka asal-usul Bangsa Indonesia bisa dipastikan bukan berasal dari Yunan, akan tetapi berasal dari bangsa Austronesia yang mendiami Kepulauan Formosa (Taiwan). Direktur Institut Biologi Molekuler, Prof. Dr Sangkot Marzuki menyarankan untuk dilakukan perombakan pandangan yang tentang asal-usul Bangsa Indonesia. Dari pendekatan genetika menghasilkan beragam pandangan tentang pola penyebaran bangsa Austronesia. Hingga saat ini masih dilakukan berbagai kajian mendalam untuk memperkuat pendugaan melalui pendekatan linguistik tentang pendekatan ‘Out of Taiwan’.

Jalur Migrasi
Jalur migrasi berdasarkan pendekatan ‘Out of Taiwan’ bertentangan dengan pendekatan ‘Out of Yunan’. Pendekatan ‘Out of Yunan’ menerangkan migrasi Austronesia bermula dari Utara menuju semenanjung Melayu yang selanjutnya menyebar ke wilayah Timur Indonesia. Pendekatan ‘Out of Yunan’ dapat dilemahkan setelah ditelusuri berdasarkan pendekatan linguistik dan diperkuat pula oleh pembuktian genetika.

Berdasarkan pendekatan ‘Out of Taiwan’, migrasi leluhur dari Taiwan (Formosa) tiba terlebih dulu di Filipina bagian Utara sekitar 4500 hingga 3000 SM. Diduga migrasi dilakukan untuk memisahkan diri mencari wilayah baru di Selatan. Akibat dari migrasi ini kemudian membentuk budaya baru, termasuk diantaranya pembentukan cabang bahasa yang disebut Proto-Malayo-Polinesia (PMP). Teori migrasi awal bangsa Austronesia dari Formosa disampaikan oleh Daud A. Tanudirjo berdasarkan pandangan pakar linguistik Robert Blust yang menerangkan pola penyebaran bangsa-bangsa Austronesia.

Pada tahap selanjutnya sekitar 3500 hingga 2000 SM terjadi migrasi dari Masyarakat yang semula mendiami Filipina dengan tujuan Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Migrasi yang berakhir di Maluku Utara ini kemudian meneruskan migrasinya sekitar tahun 3000 hingga 2000 SM menuju ke Selatan dan Timur. Migrasi di bagian Selatan menuju gugus Nusa Tenggara, sedangkan di bagian Timur menuju pantai Papua bagian Barat. Dari Papua Barat ini kemudian mereka bermigrasi lagi dengan tujuan wilayah Oseania hingga mencapai Kepulauan Bismarck (Melanesia) sekitar 1500 SM.

Pada periode 3000 hingga 2000 SM, migrasi juga dilakukan ke bagian Barat yang dilakukan oleh mereka yang sebelumnya menghuni Kalimantan dan Sulawesi menuju Jawa dan Sumatera. Selanjutnya, hijrah pun diteruskan menuju semenanjung Melayu hingga ke seluruh wilayah di Asia Tenggara. Proses migrasi berulang-ulang dan menghabiskan masa ribuan tahun tidak hanya membentuk keanekaragaman budaya baru, akan tetapi juga pola penuturan (bahasa) baru.

Penutup
Teori asal-usul Bangsa Indonesia dengan pendekatan ‘Out of Taiwan’ saat ini adalah teori paling mendukung karena disertai bukti linguistik dan genetika. Kesamaan pola budaya Megalitikum hanya bisa menjelaskan pola variasi budaya, akan tetapi belum mampu untuk menjelaskan arus migrasi pertama kali. Pendekatan ‘Out of Taiwan’ pun bukannya tanpa celah. Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr Sangkot Marzuki, teori mengenai keberadaan bangsa Austronesia berdasarkan pendekatan genetika juga masih beragam dan belum menemukan titik temu.

Jika ditanya motif suku-suku bangsa ketika itu untuk menggabungkan diri ke dalam NKRI bukanlah semata didasarkan atas kesamaan nasib. Kesamaan asal usul leluhur sangat dimungkinkan bagi melatarbelakangi keinginan untuk menyatukan kembali menjadi suatu bangsa. Kedatangan kolonial Eropa yang meng-kapling wilayah menyebabkan suku-suku bangsa di wilayah penyebaran Austronesia menjadi terpisah secara politik satu dengan yang lain. Tidak mengherankan apabila catatan sejarah Majapahit dan Sriwijaya wilayah meng-klaim Nusantara sebagai wilayah kekuasaan Austronesia.

Kisah tentang sejarah asal-usul Bangsa Indonesia sesungguhnya masih belum terungkap penuh. Temuan terbaru dari Prof. Dr Sangkot Marzuki bahkan menyatakan jika penyebaran bangsa dengan bahasa Austronesia berawal dari wilayah Sunda (Jawa Barat). Perlu kiranya pemikiran atau teori baru tentang asal-usul Bangsa Indonesia dikaji ulang. Untuk awal, setidaknya dengan membebaskan terlebih dahulu paham ‘Out of Yunan’.

Sekalipun belum ditemukan bukti-bukti genetika secara meyakinkan, suku bangsa Austronesia yang menempati gugus kepulauan Formosa (Taiwan) diduga kuat bermigrasi dari wilayah Utara (Cina). Rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa lainnya di Asia Tenggara merupakan filum Bahasa Austrik. Dilihat dari kekerabatan linguistik (hipotesis filum Austrik), semua bahasa di wilayah Tiongkok bagian Selatan memiliki kedekatan (kekerabatan) dengan rumpun Bahasa Austrik. Jika hendak ditarik benang merahnya, maka diskriminasi rasial tidak perlu terjadi di negeri ini. Dengan memahami sejarah masa lalu dirinya sendiri, setidaknya bangsa ini akan lebih bijaksana dalam memberikan sikap.

kesatuan sosial dalam etnografi
KESATUAN SOSIAL DALAM ETNOGRAFI
Para ahli antropologi masa kini jarang dapat meneliti suatu suku bangsa yang kecil, sehingga mereka memerlukan suatu metode untuk menentukan secara konkrit batas – batas dari bagian suku bangsa menjadi pokok diskripsi etnografi mereka. Menurut J.A Klifton dalam bukunya ( 1968 : 15 ) daftar dari diskripsi etnografi adalah seperti dibawah ini:
a. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih
b. Kesatuan masyarakat yang terdiri dari penduduk yang mengucapkan satu logat
bahasa
c. Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh garis batas suatu daerah political
administratif
d. Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh identitas penduduknya sendiri
e. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh suatu wilayah yang merupakan kesatuan
daerah fisik
f. Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologi
g. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mengalami pengalaman sejarah yang
sama
h. Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang frekuensi interaksianya sama
i. Kesatuan masyarakat dengan susunan sosial yang seragam

sistem teknologi
SISTEM TEKNOLOGI
Teknologi yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil yang berpindah – pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian yaitu ; alat – alat produktif, senjata,wadah, alat – alat menayalakan api , makanan , minuman, bahan pembangkit gaih dan jamu – jamuan, pakaian dan perhiasan tempat berlindung dan perumahan serta alat – alat transport.
mata pencaharian
Sistem mata pencaharian pada masa lalu adalah bersifat tradisional. Sistem yang ada diantaranya berburu dan meramu, beternak secara tradisional, bercocok tanam di ladang, menangkap ikan, dan bercocok tanam menetap dengan irigasi.

sistem relig
Ada dua hal yang menyebabkan perhatian yang sangat besar yaitu upacara keagamaan dalam kebudayaan suatu bangsa dan bahan etnografi mengenai upacara keagamaan yang diperlukan untuk menyusun teori – teori tentang asal mula religi. Masalah asal mula tersebut dalam pemecahannya sudah jelas orang akan melihat kepada apa yang dianggapnya sisa – sisa dari bentuk tua dari gejala itu.

Rabu, 09 Desember 2009

budaya sulawesi tenggara

SULAWESI TENGGARA


SULAWESI TENGGARA


Sulawesi Tenggara adalah sebuah provinsi di Indonesia yang beribukotakan Kendari.
Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di Jazirah Tenggara Pulau Sulawesi, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa di antara 02°45' - 06°15' Lintang Selatan dan di antara 120°45' - 124°30' Bujur Timur dan mempunyai wilayah daratan seluas 38.140 km² atau 3.814.000 ha dan wilayah perairan (laut) seluas 110.000 km² atau 11.000.000 ha.

Festival Budaya Tradisional Sulawesi Tenggara (Sultra) 2009 menampilkan 15 jenis tari dan musik tradisional dari lima etnis (suku) besar di daerah ini selain Bugis, Makassar dan warga dari luar daerah. Kendari, 27/11 (Antara/FINROLL News) - Festival Budaya Tradisional Sulawesi Tenggara (Sultra) 2009 menampilkan 15 jenis tari dan musik tradisional dari lima etnis (suku) besar di daerah ini selain Bugis, Makassar dan warga dari luar daerah.

Kadis Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sultra, Ibrahim Marsela, di Kendari, Jumat mengatakan, kegiatan Festival Budaya Sultra itu akan berlangsung selama lima hari (28 November hingga 2 Desember 2009).

"Pembukaan festival budaya tahun 2009 ini akan dilakukan langsung oleh Gubernur Sultra, H Nur Alam," katanya.

Ia mengatakan, lima etnis suku yang ada di Sultra adalah Tolaki yang mendiami Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara, Sementara etnis Buton meliputi Kabupaten Buton, Kota Baubau dan Wakatobi dan sebagaian di Kabutaen Buton Utara.

Etnis Kabupaten Muna mendiami Kabupaten Muna dan sebagian lainnya di Kabupaten Buton Utara. Etnis Mekongga mendiami Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara dan etnis Morone di Kabaupaten Bombana.

Menurut Marsela, ke-15 tari dan seni tradisional yang akan mewarnai festival budaya adalah tari Kalego, Balumpa dan Aleonda (Buton), tari Lulu Alu, Lumense dan Morengku (Moronene).

Kemudian tari Dinggu, Tina dan Sumaku (Mekongga), tari Karada, Ore-ore dan Ulo Nggaluku (Tolaki), tari Potobo, Linda dan Lanterasi (Muna).

Sementara untuk festival seni tradisional diantaranya musik bambu dan kecapi tradisional dari masing-masing kabupaten.

Ia mencontohkan, tari Linda dari Kabupaten Muna, dimana seni tari itu akan menggambarkan kegiatan para gadis-gadis Muna di dalam penjalankan upacara "kariya" (pingitan) sebagai gadis yang akan masuk pada usia remaja (akil balig).

Gadis-gadis yang dipingit itu mendapat petuah-petuah dari para pemangku adat agar kelak menjadi sebagai wanita yang mempunyai etika moral, sopan santun dan memiliki budi pekerti yang luhur.

Begitu pula dengan tari Karada dari etnis Tolaki, dimana tarian ini yang dimaknai dengan tombak-tombak yaitu alat perang tadisional yang digunakan pada zaman dahulu kala untuk mempertahankan daratan Konawe dan Mekongga.

Alat ini dipergunakan oleh pejuang laki-laki maupun perempuan.

Dan tarian Karada ini menggambarkan ketangkasan dan kelincahan para pejuang perempuan dan laki-laki mempertahankan negerinya. Biasanya tari ini dipersembahkan pada acara resepsi kenegaraan untuk mengenang jasa pahlawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

"Kita harap dengan festival budaya tradisional ini, akan memberikan nilai tambah bagi daerah dan terutama menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki bagi generasi muda untuk terus melestarikan budaya daerah," kata Ibrahim Marsela.

Etnis Sulawesi Tenggara

Berdasarkan pendekatan ethnolinguistik, telah teridentifikasi sedikitnya 22 jumlah etnis Sulawesi Tenggara. Berikut ini nama-nama etnis itu dan penjelasannya:

1. Bajau 12. Moronene
2. Busoa 13. Muna
3. Cia-Cia 14. Pancana
4. Kaimbula 15. Rahambuu
5. Kamaru 16. Taloki
6. Kioko 17. Tolaki
7. Kodeoha 18. TukangBesi North
8. Kulisusu 19. TukangBesi South
9. Kumberaha 20. Waru
10. Lasalimu 21. Wawonii
11. Liabuku 22. Wolio
1. BAJAU (Badjaw, Badjo, Bajo, Bajao, Bayo, Gaj, Luaan, Lutaos, Lutayaos, Sama, Orang Laut, Turije’ne’) 50,000 di seluruh negeri (1977 Pallesen SIL); 25,000 di Sulawesi Tengah (1979 Barr); 8,000 hingga 10,000 di Sulawesi Selatan (1983 C. Grimes SIL); 5,000 atau lebih di Maluku Utara (1982 C. Grimes SIL); beberapa ribu di Nusa Tenggara (1981 Wurm dan Hattori). Di Sulawesi Selatan di kabupaten Selayar, Bone, dan Pangkep. Di pantai timur Sulawesi Tenggara di Wowonii, Muna, Buton gaian utara, Kabaena, Kepualuan Tukang Besi bagian utara. Tersebar luas di seluruh Sulawesi, Maluku Utara (Bacan, Obi, Kayoa, dan Pulai Sula), Kalimantan, dan pulau-pulau di Laut Sunda Timur. Bahasa Bajau yang lain ada di Sabah, Malaysia, dan Philippina bagian selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sama-Bajaw, Sulu-Borneo, Borneo Coast Bajaw. Dialek: Jampea, Same’, Matalaang, Sulamu, Kajoa, Roti, Jaya Bakti, Poso, Tongian 1, Tongian 2, Wallace. Dikenal sebagai Bayo dan Turijene dalam Bahasa Makassar. Dikenal sebagai Bajo dalam bahasa Bugis. Mungkin mencakup beberapa bahasa. Bahasa agak kasar dipergunakan di Maluku Utara. Ada sekolah di beberapa desa. Mereka tinggal di suatu rumah yang dibangun dil laut. Akses dengan laut. Teluk kecil, pulau, karang, Orang laut. Muslim, agama tradisional.
2. BUSOA 500 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, Kecamatan Batauga, pantai barat daya Pulau Buton, sebelah selatan wilayah Katobengke-Topa-Sulaa-Lawela. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. 84% kemiripan bahasa dengan Kambe-Kambero, 70% hingga 79% dengan dialek Muna, 71% dengan Muna, 76% dengan Lantoi. Kambe-Kambero berbagi inovasi dengan Kaimbulawa, dan mungkin bukan dialek Busoa. Muslim.
3. CIA-CIA (Buton Selatan, Butung Bagian Selatan, Buton, Orang Buton, Boetoneezen) 15,000 (1986 SIL). Sulawesi Tenggara, Pulau Buton bagian selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. Dialek: Kaesabu, Sampolawa (Mambulu-Laporo), Wabula, Masiri. 93% kemiripan bahasa dengan Masiri, 74% dengan Kambe-Kambero, 69% dengan Busoa, 67% dengan Lantoi, 66% dengan Liabuku, 61% dengan Wolio, 60% dengan Muna. Dialek Wabula memiliki sub-dialek Wabula, Burangasi, Wali, Takimpo, Kondowa, Holimombo. “Cia-Cia” adalah nama yang sering digunakan, meskipun itu terminologi negatif. Muslim.
4. KAIMBULAWA 1,500 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, bagian Pulau Siompu. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Lantoi, Kambe-Kambero. Suatu bahasa tersendiri; bukan dialek Muna atau Cia-Cia. 96% lkemiripan bahasa dengan Lantoi, 75% dengan Busoa, 64% hingga 74% dengan dialek Muna, 64% dengan Muna, 70% dengan Liabuku, 66% dengan Cia-Cia, 58% dengan Wolio, 45% dengan Kaledupa. Muslim.
5. KAMARU 2,000 (1979 Burhanuddin). Pulau Buton bagian tenggara, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. 68% kemiripan bahasa dengan Lasalimu, 67% dengan Wolio, 54% dengan Cia-Cia, 51% dengan Pancana, 49% dengan Tukangbesi, 45% dengan Muna. Muslim.
6. KIOKO 1,000 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi tenggara, Kecamatan Kulisusu di Pulau Buton. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Kioko, Kambowa. Dilaporkan menjadi bahasa tersendiri. Mungkin merupakan bagian bahasa Pancana. 82% kemiripan bahasa dengan Kambowa, 81% dengan dialek Laompo Muna, 74% dengan Muna, 75% dengan Liabuku dan Busoa. Muslim.
7. KODEOHA (Kondeha) 1,500 (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, kabupaten Kolaka, Kecamatan Lasusua, pantai barat Kolaka. 4 desa. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. 75% kemiripan bahasa dengan Rahambuu; 70% dengan Tolaki, Mekongga, dan Waru; 54% dengan kelompok Mori dan Bungku. Bahasa Bugis digunakan sebagai bahasa kedua. Muslim.
8. KULISUSU (Kalisusu, Kolinsusu, Kolensusu) 22,000 (1995 SIL). Sulawesi Tenggara, Kecamatan Kulisusu dan Bonegunu di Pulau Buton bagian utara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. 81% kemiripan bahasa antara dialek, 77% dengan Taloki, 75% dengan Koroni, 66% dengan Wawonii dan Bungku, 65% dengan Moronene, 54% dengan Mori dan Tolaki. Muslim.
9. KUMBERAHA 250 (1995 SIL). Kecamatan Lasalimu di Buton tenggara. Tidak terklasifikasi. Muslim.
10. LASALIMU 2,000 (1979 Bhurhanuddin). Bagian tenggara Pulau Buton Island, Kecamatan Lasalimu, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. 68% kemiripan bahasa dengan Kamaru, 64% dengan Cia-Cia, 57% dengan Tukangbesi, 51% dengan Pancana, 50% dengan Wolio dan Muna. Muslim.
11. LIABUKU 500 hingga 1,500 mungkin (1991 R. van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, satu desa, utara Baubau di Kecamatan Bungi dan Kapontori, Buton selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Cukup berlainan dari Muna; mungkin bagian dari Bahasa Pancana. 82% kemiripan bahasa dengan dialek Burukene Muna, 72% hingga 76% dengan dialek Muna, 72% dengan Muna, 75% dengan Kioko. Muslim.
12. MORONENE (Maronene) 31,000, termasuk 20,000 di Moronene, 11,000 di Tokotu’a (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Buton. Dialek Tokotu’a di Pulau Kabaena, Wita Ea di daratan Kabupate Buton berhadapan dengan Kabaena, dengan Sub-dialek Rumbia di kacamatan Rubia, dan sub-dialek Poleang di Kecamatan Poleang, Poleang Timur, dan Watubangga, Kabupaten Kolaka. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. Dialek: Wita Ea (Rumbia, Poleang, Moronene), Tokotu’a (Kabaena). Dialek Moronene mempunyai 80% kemiripan bahasa dengan Tokotu’a; 68% dengan Wawonii-Menui, 66% dengan Kulisusu, 65% dengan Taloki, Koroni, Tulambatu, 64% dengan Bungku, dan 57% dengan Tolaki. Dulunya ada kerajaan. Muslim, Kristen.
13. MUNA (Wuna, Mounan) 227,000 (1989 van den Berg), termasuk 600 di Ambon (1985 SIL). 150,000 Standard Muna, 10,000 Tiworo, 7,000 Siompu, 60,000 Gumas (1989 van den Berg). Pulau Muna Sulawesi Tenggara, pantai barat daya Pulau Buton, dan Ambon, Maluku Tengah. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Standard Muna (Muna utara), Gumas (Muna selatan), Siompu, Tiworo (Muna timur). Wuna adalah nama pribadi. 71% kemiripan bahasa dengan Pancana, 62% dengan Cia-Cia, 52% dengan Wolio, 50% dengan Lasalimu, 47% dengan Tukangbesi, 45% dengan Kamaru. Sub-dialek Standard Muna adalah: Tungkuno, Kabawo, Lawa, Katobu, Tobea Besar; Gumas adalah: Gu, Mawasangka, Lakudo, Wale-Ale, Lawama, Kadatua, Lowu-Lowu, Kalia-Lia, Katobengke, Topa, Salaa, Lawela, Laompo, Burukene. Muslim, Kristen.
14. PANCANA (Pantjana) 15,000 (1979 Bhurhanuddin). Sulawesi Tenggara, dekat Muna, Pulau Buton tengah. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Kapontori, Kalende (Lawele), Labuandiri. Nama dialek juga menempati nma. 71% kemiripan bahasa dengan Muna, 57% dengan Cia-Cia. Mungkin lebih dari satu bahasa; Muslim.
15. RAHAMBUU (Wiau, Wiaoe) 5,000 (1991 SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kolaka, Kecamatan Pakue, pantai barat Kodeoha. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. 87% kemiripan bahasa diantara dialek, 75% dengan Kodeoha, 70% dengan Tolaki, Mekongga, dan Waru; 54% dengan Mori dan Bungku. Muslim.
16. TALOKI (Taluki) 500 (1995 SIL). Sulawesi Tenggara, pantai barat daya Pulau Buton, Kecamatan Wakorumba, Desa Maligano, dan mungkin beberapa di Pulau Buton Selatan, Kecamatan Kapontori, Desa Wakalambe. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki. 77% kemiripan bahas dengan Kulisusu; 75% dengan Koroni; 66% dengan Wawonii, Bungku, Tulambatu; 65% dengan Moronene. Para penutur dilaporkan memiliki dwibahasa yang dtinggi di Muna. Muslim.
17. TOLAKI (To’olaki, Lolaki, Lalaki, Laki, Kolaka, “Noie”, “Noihe”, “Nehina”, “Nohina”, “Nahina”, “Akido”) 281,000, termasuk 230,000 Konawe, 50,000 Mekongga, 650 Asera, lebih sedikit dari 100 Wiwirano, 200 Laiwui (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Kendari dan Kolaka. Mekongga di Pegunungan Mekongga di pinggiran barat dekat Soroako. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. Dialek: Wiwirano, Asera, Konawe (Kendari), Mekongga (Bingkokak), Norio, Konio, Tamboki (Tambbuoki), Laiwui (Kioki). Wiwirano memiliki 88% kemiripan bahasa dengan Asera, 84% dengan Konawe, 85% dengan Mekongga, 81% dengan Laiwui, 78% dengan Waru, 70% dengan Rahambuu dan Kodeoha, 54% dengan Mori dan Bungku. Mekongga memiliki 86% kemiripan dengan Konawe, 80% dengan Laiwui. Tes kejelasan dibutuhkan dengan dialek yang tersusun diatas, Mekongga, dan Waru. Nama-nama negatif tidak lagi dipergunakan. Wiwirano hanya dituturkan oleh para tetua. Kamus. Tatabahasa. Muslim, Kristen.
18. TUKANGBESI NORTH (Wakatobi) 120,000 termasuk 60,000 di Maluku (1995 SIL); beberapa ratus di Singapore. Pulau-pulau bagian utara Kepulauan Tukangbesi, Kaledupa dan Wanci, beberapa ratus di Singapore dan Kota Baubau; di Bacan, Taliabu, Mongole, Buru, Sulabesi, Seram, dan Pulau Ambon di Maluku; Irian Jaya; dan Sumbawa. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Tukangbesi-Bonerate. Dialek: Kaledupa (Kahedupa), Wanci (Wanji, Wantji, Wanje, Wangi- Wangi). 80% kemiripan bahasa antara Kaledupa dan Wanci; mungkin bahasa terpisah. 70% hingga 75% dengan Tukangbesi Selatan, 48% dengan Lasalimu, 47% dengan Cia-Cia, 40% dengan Kamaru, rata-rataf 35% dengan bahas-bahasa tetangga. Muslim.
19. TUKANGBESI SOUTH (Tukang-Besi, Wakatobi) 130,000 termasuk 100,000 di Maluku (1995 SIL). Pulau-pualu selatan Kepulauan Tukangbesi, (Binongko dan Tomea); Taliabu, Mongole, Sulabesi, Buru, Seram, Ambon, dan Kapulauan Alor di Maluku; Dialek Bonerate di Bonerate, Madu, Kalaotoa, dan Pulau Karompa di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan; banyak pemukiman di seluruh Irian Jaya Barat. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Tukangbesi-Bonerate. Dialek: Binongko, Tomea (Tomia). Binongko memiliki 85% kemiripan bahasa dengan Tomea, 81% dengan Bonerate, Tomea 79% dengan Bonerate. 70% hingga 75% dengan Tukangbesi Utara, 48% dengan Cia-Cia, 49% dengan Lasalimu, rata-rata 35% dengan bahasa tetangga. Muslim.
20. WARU (Mopute, Mapute) 350 (1991 SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kendari, Kecamatan Asera, Desa Mopute dekat Sunga Lindu. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. Dialek: Waru, Lalomerui. Dialek Waru memiliki 86% kemiripan bahasa dengan Lalomerui, 79% dengan Dialek Tolaki dan Mekongga, 70% dengan Rahambuu dan Kodeoha, 54% dengan kelompok Mori dan Bungku. Test kejelasan dibutuhkan dengan Bahasa Tolaki. Muslim.
21. WAWONII (Wowonii) 22,000, termasuk 14,000 Wawonii, 7,500 Menui (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Pulau Wawonii dan Menui dekat Kendari. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. Dialek: WAWONII, MENUI. 75% kemiripan bahasa dengan Bungku dan Tulambatu; 66% dengan Taloki, Kulisusu, dan Koroni; 65% dengan Moronene. Muslim.
22. WOLIO (Baubau, Buton, Butung, Butonese, Boetoneezen) 25,000 to 35,000 (1990). bagian barat daya Pulau Buton di Bau-Bau dan masyarakat sekitar, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. Wolio adalah bahasa yang dipakai di istana Sultan di Baubau dan masyarakat sekitar, dan dahulu digunakan oleh para bangsawan di wilayah ini. Bahasa daerah resmi. Memiliki dasar tulisan Bahasa Arab. Nama ‘Buton’ biasanya digunakan secara umum di Sulawesi Tenggara untuk mengacu ke Wolio; di luar Sulawesi Tenggara mengacu kepada orang-orang dari Sulawesi Tenggara, atau kadang-kadang membingungkan dengan Orang Bajo sebagai pelayar. 61% kemiripan bahasa dengan Cia-Cia, 60% dengan Masiri dan Lantoi. Survey dialek dibutuhkan di Buton Selatan dan Tengah, Bungi, Sorawolio, Kapontori, Pasar Wajo, Sampolawa, Betoambari, dan Batauga. Bahasa perdagangan. Muslim.
Sumber; http://www.idrap.or.id

Senin, 16 November 2009

Judul Skripsi Bimbingan dan Konseling

1. Peningkatan kepercayaan diri remaja melalui konseling kelompok
Universitas Gadjah Mada) Magister

2. Hubungan antara persepsi terhadap bimbingan konseling, sikap terhadap bimbingan konseling, dan kebiasaan belajar dengan prestasi belajar
( Universitas Gadjah Mada) Magister

3. Pengaruh bibliokonseling sebagai teknik konseling kelompok untuk mengurangi prasangka sosial siswa etnik Jawa dan Tionghoa
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang) Magister

4. Hubungan hasil belajar keseluruhan matakuliah program studi bimbingan dan konseling dengan penyesuaian sosial mahasiswa Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang) Magister

5. Hubungan antara tingkat penerimaan pelayanan bimbingan dan konseling dengan persepsi siswa terhadap pelayanan dan bimbingan dan prestasi belajar di beberapa SMA negeri Kotamadya Padang
( Universitas Gadjah Mada) Magister

6. Efektivitas layanan konseling melalui pendekatan sugestif dibandingkan konseling melalui pendekatan persuasif terhadap prestasi belajar mahasiswa Akademi Akuntansi Trisakti dengan indeks prestasi kumulatif di bawah 2
( Universitas Indonesia) Magister

7. Hubungan persepsi siswa terhadap suasana rumah dan bimbingan konseling di sekolah dengan prestasi belajar di beberapa SMA negeri Kotamadya Palembang
( Universitas Gadjah Mada) Magister

8. Tingkat unjuk kerja konselor dalam menyelenggarakan wawancara konseling awal ditelaah dari latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjanya : studi deskriptif-analitik terhadap para konselor di SMA negeri Kotamadya Bandung
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung) Magister

9. Perbedaan penyesuaian diri di sekolah ditinjau dari sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah, jenis kelamin dan tingkat kelas para siswa SMA Negeri 9 Yogyakarta
( Universitas Gadjah Mada) Magister

10. Unsur-unsur informasi bimbingan dan konseling dalam adat-istiadat kelaziman serta kebiasaan hidup masyarakat Riung-Ngada
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang) Magister

11. Efektivitas model bantuan Carkhuff dan konseling direktif dengan dan tanpa kontak mata dalam membantu konseli membuat keputusan pilihan program studi
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang) Doktor

12. Model pengembangan sistem bimbingan dan konseling yang fungsional di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung) Magister

13. Tahap-tahap penalaran moral remaja menurut Kohlberg dalam latar sosial-budaya Flobamora : implikasinya bagi layanan bimbingandan konseling di sekolah
( Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang) Doktor

14. Efektivitas pelatihan ketrampilan dasar konseling untuk meningkatkan ketrampilan konseling petugas TB
( Universitas Gadjah Mada) Magister

15. Persepsi siswa dan guru mata pelajaran terhadap pengelolaan bimbingan dan konseling pada SLTP Negeri di Kecamatan Baruga Kendari
( Universitas Negeri Makassar) Magister

16. Pengaruh konseling kepada ibu terhadap pengetahuan sikap dan perilaku menyusui secara eksklusif dan pertumbuhan bayi sampai umur 4 bulan di Kabupaten Minahasa
( Universitas Gadjah Mada) Magister

17. Pengaruh konseling kognitif terhadap depresi siswa SLTP dan SLTA di Kota Surabaya
( Universitas Gadjah Mada) Doktor

18. Pengaruh tingkat persepsi dan sikap mengenai pelaksanaan bimbingan konseling terhadap tingkat kesulitan belajar : studi pada siswa SMP negeri di Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar
( Universitas Negeri Makassar) Magister

19. Pengaruh konseling gizi dengan buklet terhadap konsumsi makanan dan status gizi penderita gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
( Universitas Gadjah Mada) Magister

20. Pelaksanaan program pendidikan kesehatan reproduksi remaja berbasis sekolah : studi kasus program penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi remaja di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta
( Universitas Indonesia)

Kamis, 12 November 2009

silabus bimbingan dan konseling

Bimbingan Konseling selain memiliki Program Kerja, juga memiliki silabus dan kisi-kisi yang berfungsi sebagai acuan dalam Pelayanan Bimbingan dan Konseling yang berbasiskan Kompetensi Siswa. Berikut beberapa silabus Layanan Bimbingan Konseling dalam format PDF:

Rabu, 04 November 2009

Bumi Sebagai Planet

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bumi adalah satu-satunya tempat di mana manusia dapat hidup dan bertahan tanpa alat bantu, berkat tanah dan air yang melimpah serta atmosfer yang dapat dihirup untuk bernafas.
Dimulai dari planet Bumi merupakan sebuah tempat yang ditumpangi oleh bermiliar manusia. Kecerdasan spiritual manusialah yang akan memberi makna perjalanan di alam semesta ini, perjalanan antargenerasi selama bermiliar tahun tanpa tujuan akhir yang diketahui pasti, yang gratis dan tak berujung, hingga waktu kehancurannya tiba.
Namun Bumi masih terlalu kecil dibandingkan Matahari, sebuah bola gas pijar raksasa, lebih dari 1.250.000 kali ukuran Bumi dan bermassa 100.000 kali lebih besar. Bumi yang tak berdaya, tertambat oleh gravitasi, terseret Matahari mengelilingi pusat Galaksi lebih dari 200 juta tahun untuk sekali edar penuh. Sangat sayang kita tidak berencana sujud dan berserah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Pengiring Matahari lainnya adalah planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto, asteroid, komet dan sebagai-nya. Ragam wahana dalam tata surya itu berupa sosok bola gas, bola beku, karang tandus yang sangat panas; semuanya tak terpilih seperti planet Bumi. Lalu, mengapa wahana yang tersebar di alam semesta yang sangat luas itu tak semuanya mudah atau layak dihuni oleh kehidupan?.
Putaran demi putaran waktu berlalu, kehancuran wahana bermiliar manusia akan menghampiri perlahan tapi pasti. Namun, berbagai pertanyaan manusia tentang misteri alam semesta masih belum atau tak berjawab. Berbagai upaya rasionalitas manusia telah dikerahkan dan penge-tahuan bertambah, namun misteri alam semesta itu terus menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
Penjelajahan akal manusia mendapatkan fakta-fakta penyusun alam semesta, mulai dari dunia atom, planet, tata surya, hingga galaksi dan ruang alam semesta yang berbatas galaksi-galaksi muda. Dengan itu, pengetahuan manusia merentang dalam dimensi panjang 10-13 hingga 1026 meter, yang merupakan batas fakta-fakta yang dapat diperoleh dalam dunia sains. Pada abad ke-21 manusia masih berambisi untuk menyelami dunia 10-35 meter (skala panjang Planck) atau 10-20 kali lebih kecil dari penemuan skala atom pada dekade pertama abad ke-20. Begitu pula dimensi lainnya seperti waktu, energi, massa, rentangnya meluas dari yang lebih kecil dan lebih besar.
Tentang rentang waktu alam semesta, manusia mendefinisikan berbagai zaman (dan zaman transisi di antaranya): Zaman Primordial, ketika usia alam semesta antara 10-50 hingga 105 tahun, Zaman Bintang, (106 - 1014 tahun), Zaman Materi Terdegenerasi, (1015 - 1039 tahun), Zaman Black Hole, (1040 - 10100tahun), Zaman Gelap ketika alam semesta menghampiri kehancurannya (10101 - 10??? tahun) dan Zaman Kehancuran Alam Semesta (10200???? tahun), ketika materi meluruh. Tanpa fakta-fakta dan ilmu yang diketahui manusia (atas izin Allah), akhirnya manusia hanya bisa berspekulasi dan tak bisa mendefenisikan berbagai keadaan, misalnya sebelum kelahiran alam semesta dan setelah kehancuran.
Penjelajahan akal manusia bisa menggapai penaksiran hal-hal berikut: jumlah partikel (di Matahari 1060 atau di Bumi 1050), energi ikat (antara Bumi dan Matahari sebesar 1033 Joule), energi radiasi matahari sebesar 1026 watt, energi Matahari yang diterima Bumi sebesar 1022 Joule, energi yang diperlukan manusia per tahun sebesar 1020 Joule, energi penggabungan inti atom, fissi 1 mol Uranium sebesar 1013 Joule, energi yang dihasilkan 1 kg bensin sebesar 108 Joule. Sebuah anugerah yang besar bagi manusia, walaupun melalui proses yang panjang.


BAB II

PEMBAHASAN

Bumi Planet yang Biru
Bumi, beserta atmosfer dan lautannya, beserta biosfernya yang rumit, beserta kerak yang terbentuk dari bekuan batuan metamorfik berlapis-lapis, yang relatif teroksidasi, kaya akan silika, dan menyelimuti (lapisan dan inti yang terdiri dari magnesium silikat) biji besi, beserta puncak salju, gurun pasir, hutan, padang lumut, rimba belantara, padang rumput, danau air tawar, padang batubara, kantong minyak, gunung api, lubang lahar, pabrik, mobil, tanaman, binatang, medan magnet, ionosfer, pegunungan di tengah laut, lapisan penyangga merupakan sistem dengan kerumitan mencengangkan.
Petualang luar angkasa khayalan, dari planet di angkasa yang jauh di sana, ketika mendekati tata surya akan menjumpai pemandangan yang sangat menarik. Bayangkan bahwa kita adalah pe-ngembara seperti itu, dan kita sedang menghampiri bidang edar planet terhadap matahari—sebuah lingkaran raksasa pada bola langit di mana seluruh planet utama dalam tata surya kita bergerak.
Planet pertama yang dijumpai adalah Pluto. Planet ini sangat dingin, dengan suhu sekitar -238oC. Atmosfernya tipis dan akan berbentuk gas jika planet ini berada hanya sedikit lebih dekat ke matahari pada orbitnya yang berbentuk agak elips. Lain saat, atmosfernya menjadi lapisan es. Pluto, ringkasnya, adalah bola tanpa kehidupan yang diselimuti es.
Bergerak mendekat matahari, akan menjumpai Neptunus. Planet ini dingin juga, sekitar -218oC. Atmosfernya terdiri dari hidrogen, helium, dan metan, beracun bagi kehidupan. Angin yang bertiup kencang, mendekati 2.000 km per jam, bergemuruh di seluruh permukaan planet.
Lantas Uranus adalah planet gas yang pada permukaannya terdapat batuan dan es. Suhu permukaannya adalah -214oC dan atmosfernya, lagi-lagi, terdiri dari hidrogen, helium, dan metan tidak cocok bagi kehidupan manusia.
Setelah Uranus, yaitu Saturnus. Ini adalah planet terbesar kedua dalam tata surya, dan terutama terkenal dengan sistem berbentuk cincin yang mengitarinya. Cincin ini terdiri dari gas, batuan, dan es. Salah satu dari sekian banyak hal menarik tentang Saturnus adalah planet ini seluruhnya terdiri dari gas: 75% hidrogen dan 25% helium, dan kerapatannya kurang daripada kerapatan air. Suhu rata-rata lagi-lagi sangat rendah: -178oC.
Berikutnya adalah Yupiter yang merupakan planet terbesar dalam tata surya, 318 kali lebih besar daripada bumi. Seperti Saturnus, Yupiter juga planet yang dibentuk oleh gas. Karena sulit membedakan “atmosfer” dan “permu-kaan” pada planet seperti ini, sulit juga ditentukan berapa suhu “permu-kaan”nya, namun pada lapisan atas atmosfer, suhu mencapai -143oC. Bentukan alam yang menarik di atmosfernya adalah apa yang disebut “Bintik Merah Raksasa”. Ini pertama kali diketahui 300 tahun yang lalu. Ahli astronomi sekarang mengetahui bahwa ini adalah badai yang luar biasa kuatnya yang telah berkecamuk di atmosfer Jovian selama berabad-abad. Badai ini cukup besar untuk menelan beberapa planet seukuran bumi. Yupiter mungkin planet yang mendebarkan, namun bukan rumah bagi manusia, yang seketika akan tewas karena temperatur yang mem-bekukan, angin yang ganas, dan radiasi yang tinggi.
Lantas muncul Mars. Atmosfer planet ini tidak mungkin mendukung kehidupan manusia sebab sebagian besar terdiri dari karbondioksida. Seluruh permukaannya dipenuhi kawah: hasil dari tubrukan meteor yang terus-menerus dan angin kencang yang bertiup di seluruh permukaannya, yang dapat menimbulkan badai pasir berhari-hari bahkan ber-minggu-minggu. Suhu agak bervariasi namun turun hingga -53oC. Telah banyak spekulasi bahwa di Mars mungkin terdapat kehidupan, namun seluruh bukti menunjukkan bahwa planet ini tanpa kehidupan juga.
Berikutnya adalah Venus. planet ini diselimuti kabut putih cemerlang namun suhu permukaannya 450oC, yang cukup untuk melelehkan timah. Sebagian atmosfernya berupa karbon-dioksida. Di permukaan planet, tekanan atmosfer setara dengan 90 kali tekanan atmosfer bumi di bumi, manusia harus menyelam satu kilometer ke dalam laut untuk mendapatkan tekanan setinggi ini. Di atmosfernya terdapat berlapis-lapis gas asam belerang sedalam beberapa kilometer. Tidak ada seorang pun atau kehidupan lain yang mampu bertahan sedetik pun di tempat yang keras seperti ini.
Selanjutnya adalah Merkurius, dunia kecil berbatu, ditempa panas dan radiasi matahari. Rotasinya begitu terhambat oleh kedekatannya dengan matahari, menyebabkan planet ini melakukan hanya tiga rotasi aksial penuh selama dua kali peredaran mengelilingi matahari. Dengan kata lain, di Merkurius, dua “tahun” sama dengan tiga “hari”. Disebabkan perputaran harian yang begitu lama, satu sisi planet menjadi begitu panas sementara sisi lainnya begitu dingin. Perbedaan ssuhu antara sisi siang dan sisi malam dapat mencapai 1.000o C. Tentu saja lingkungan seperti ini tidak mungkin menopang kehidupan.
Dari delapan planet tidak satu pun darinya, termasuk lima puluh tiga satelitnya menyediakan sesuatu yang mungkin menopang kehidupan. Semuanya tak lebih dari bola gas, es atau batu tanpa kehidupan.
Namun, bagaimana dengan planet biru?.Ia berbeda dari yang lain. Dengan atmosfer yang ramah, kondisi permukaan, suhu permukaan, medan magnet, ketersediaan unsur-unsur, serta posisi pada jarak yang tepat dari matahari, tampak seperti telah dirancang secara khusus untuk tempat hidup.

Adaptasi Bumi
“Adaptasi” adalah kata benda dari kata kerja “adapt” (menyesuaikan). “Adapt” menyiratkan perubahan mengikuti keadaan. Sebagaimana digunakan para evolusionis, ini berarti “perubahan suatu makhluk atau bagiannya yang membuat keberadaannya semakin sesuai dengan kondisi lingkungan”. Teori evolusi menyatakan bahwa seluruh makhluk hidup di bumi berasal dari satu makhluk (nenek moyang tunggal). Nenek moyang tunggal itu sendiri muncul secara kebetulan, dan teori ini sangat sering menggunakan makna kata “adaptasi” untuk mendukungnya.
Pendukung evolusi percaya bahwa makhluk hidup berubah menjadi spesies baru dengan beradaptasi terhadap lingkungan. Mekanisme adaptasi makhluk hidup terhadap kondisi alam hanya terjadi dalam suatu kondisi tertentu, dan adaptasi tidak pernah bisa mengubah suatu spesies menjadi spesies lain. Teori evolusi beserta konsep “adaptasi” tak lebih merupakan bentuk lain Lamarckisme, yaitu teori evolusi makhluk hidup yang menyatakan bahwa perubahan lingkungan menyebabkan perubahan struktur binatang dan tumbuhan yang dapat diteruskan kepa-da keturunannya. Teori ini telah dibantah kuat dan tepat oleh komunitas ilmiah.
Jadi, dalam memahami kesalahan dari konsep adaptasi, hal pertama yang patut diperhatikan adalah bahwa kehidupan hanya ada jika terdapat kondisi dan unsur penting tertentu. Satu-satunya model kehidupan yang berdasarkan kriteria ilmiah adalah kehidupan berbasis karbon, dan ilmuwan sepakat bahwa tidak ada bentuk kehidupan lainnya di manapun di alam semesta.
Karbon adalah unsur dengan nomor atom 6 dalam tabel periodik un-sur. Atom ini adalah dasar kehidupan di bumi sebab seluruh molekul makhluk hidup (seperti asam nukleat, asam amino, protein, lemak dan gula) dibentuk oleh kombinasi karbon dengan unsur lain dalam berbagai cara. Karbon membentuk berjuta-juta jenis protein setelah bergabung de-ngan hidrogen, oksigen, nitrogen dan lain-lain. Tidak ada unsur selain karbon yang memiliki kemampuan untuk membentuk begitu banyak rantai kimia yang amat diperlukan oleh kehidupan.
Akibatnya, jika kehidupan dapat terjadi di planet lain di mana pun di alam semesta, maka kehidupan ini pasti berbasis karbon.
Terdapat sejumlah kondisi yang mutlak penting bagi berlangsungnya kehidupan berbasis karbon. Misalnya, senyawa berbasis karbon (seperti protein) hanya dapat bertahan pada rentang temperatur tertentu. Senyawa ini akan mulai terurai pada temperatur lebih dari 120oC dan rusak tidak terpulihkan jika didinginkan di bawah -20oC. Namun, tidak hanya suhu yang berperan penting dalam penentuan batasan kondisi yang cocok untuk keberadaan kehidupan berbasis karbon: juga jenis dan kekuatan cahaya, kekuatan gaya gravitasi, komposisi atmosfer, dan kekuatan medan magnet. Bumi menyediakan dengan tepat kondisi-kondisi yang memungkinkan kehidupan tersebut. Jika bahkan satu saja keadaan diubah, misalnya suhu rata-rata melebihi 120oC, tidak akan ada kehidupan di bumi.
Kehidupan hanya mungkin ada dalam lingkungan dengan batas-batas tertentu, dan dalam kondisi yang dengan sengaja dirancang bagi kehidupan. Ini adalah kebenaran bagi kehidupan secara umum dan bagi manusia khususnya. Bumi adalah lingkungan yang dengan sengaja telah dirancang sang pencipta.

Suhu Bumi
Suhu dan atmosfer adalah unsur penting pertama bagi kehidupan di bumi. planet biru ini memiliki dua hal, baik suhu yang memungkinkan untuk hidup maupun atmosfer yang dapat digunakan makhluk hidup untuk bernapas, khususnya bagi makhluk hidup yang kompleks seperti manusia. Namun, dua faktor yang sama sekali berbeda ini telah ada sebagai akibat dari kondisi yang ternyata ideal bagi keduanya.
Salah satu kondisi ideal ini adalah jarak antara bumi dan matahari. Bumi tidak akan menjadi tempat kehidupan seandainya lebih dekat ke matahari seperti Venus atau lebih jauh seperti Yupiter: Molekul berbasis karbon hanya mampu bertahan pada suhu antara -20oC dan 120oC, dan bumi satu-satunya planet dengan suhu rata-rata dalam batas tersebut.
Ahli geologi Amerika, Frank Press dan Raymond Siever, menunjukkan keistimewaan suhu rata-rata di bumi. Mereka menyatakan, “kehidupan seperti yang kita ketahui hanya mungkin terjadi pada selang suhu yang sangat sempit. Selang suhu ini mungkin hanya 1 atau 2 persen dari selang suhu antara nol mutlak dan suhu permukaan matahari.”
Terjaganya selang suhu ini juga berkaitan dengan jumlah panas yang dipancarkan matahari, di samping jarak bumi dengan matahari. Menurut perhitungan, penurunan 10% saja dari panas yang dipancarkan matahari akan membuat permukaan bumi ditutupi lapisan es setebal beberapa meter, dan apabila panas yang dipancarkan matahari naik sedikit saja, seluruh makhluk hidup akan hangus dan mati.
Tidak saja suhu rata-rata harus ideal, panas yang tersedia harus tersebar cukup merata ke seluruh planet. Sejumlah kondisi khusus telah diciptakan untuk memastikan hal ini benar-benar terjadi.
Sumbu rotasi bumi miring 23o27' terhadap bidang ecliptic (garis edar bumi mengitari matahari). Kemiringan ini mencegah panas berlebihan pada atmosfer di wilayah antara kutub dan khatulistiwa, membuat suhu menjadi lebih sedang. Jika kemiringan ini tidak ada, perubahan suhu an-tara kutub dan khatulistiwa akan jauh lebih tinggi dan daerah bersuhu sedang (temperate zone) tidak akan ada atau tidak dapat ditinggali.
Kecepatan rotasi bumi pada sumbunya juga menjaga penyebaran panas menjadi seimbang. Bumi melakukan satu rotasi penuh dalam 24 jam menghasilkan periode pergantian terang dan gelap cukup singkat. Karena periode ini singkat, perubahan panas antara sisi terang dan gelap cukup rendah. Pentingnya hal ini dapat dilihat dalam contoh ekstrem planet Merkurius, di mana siang lebih dari setahun dan perbedaan suhu antara siang dan malam mendekati 1.000oC.
Geografi bumi juga membantu menyebarkan panas secara merata di seluruh permukaan bumi. Terdapat perbedaan suhu sekitar 100oC antara kutub dan khatulistiwa. Jika perbedaan suhu sebesar ini terjadi pada daerah yang benar-benar rata, hasilnya adalah angin dengan kecepatan mencapai 1.000 km per jam menyapu segala sesuatu yang dilaluinya. Namun, bumi dipenuhi penghalang berupa bentukan alam yang menghambat perpindahan cepat udara yang dihasilkan oleh perbedaan suhu itu. Penghalang ini berupa pegunungan, seperti yang membentang antara Pasifik di timur dan Atlantik di barat, dimulai dari Himalaya di Cina dan dilanjutkan dengan Pegunungan Taurus di Anatolia dan Alpen di Eropa. Di laut, kelebihan panas di daerah katulistiwa dipindahkan ke utara dan selatan berkat kemampuan air yang luar biasa untuk meng-hantarkan dan melepaskan panas.
Pada saat yang sama, terdapat sejumlah sistem otomatis yang mem-bantu menjaga suhu atmosfer seimbang. Misalnya, saat suhu di suatu wilayah naik, laju penguapan air akan meningkat, menyebabkan ter-bentuknya awan. Awan ini memantulkan lebih banyak cahaya kembali ke angkasa, mencegah peningkatan suhu udara dan permukaan di bawahnya.

Massa dan Medan Magnet Bumi
Ukuran bumi tidak kalah penting bagi kehidupan daripada jarak bumi dengan matahari, kecepatan rotasi dan bentukan-bentukan di permukaan bumi. Memperhatikan planet lain, kita melihat rentang ukuran yang lebar: Merkurius lebih kecil daripada sepersepuluh bumi, sementara Yupiter 318 kali lebih besar. Selain massa bumi, susunan perut bumi juga dirancang khusus. Dise-babkan intinya, bumi memiliki medan magnet kuat yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup. Perut bumi luar biasa besarnya, namun merupakan mesin penghasil panas yang diseimbangkan secara rumit dengan bahan bakar radioaktif. Apabila bekerja lebih lambat, aktivitas geologi akan berjalan lebih lambat. Besi mungkin tidak mencair dan terbenam membentuk inti cair, dan medan magnet tidak pernah terbentuk. Apabila lebih banyak bahan radioaktif, dan mesin bekerja lebih cepat, gas dan debu vulkanik tentu telah menghalangi matahari, sehingga atmosfer menjadi pekat mematikan dan permukaan bumi diguncang oleh gempa dan letusan gunung api setiap hari.
Medan magnet bumi berperan penting bagi kehidupan. Medan magnet ini berasal dari struktur inti bumi. Inti bumi terdiri dari unsur-unsur berat seperti besi dan nikel yang mampu menahan muatan magnet. Inti dalam berbentuk padat sementara inti luar cair. Dua lapis inti bergerak saling mengitari, dan gerakan inilah sumber medan magnet bumi. Menyebar jauh di atas permukaan, medan ini melindungi bumi dari radiasi merusak yang berasal dari angkasa luar. Radiasi dari bintang selain matahari tidak dapat melewati perisai ini. Sabuk Van Allen, yang medan magnetnya merentang hingga 18.000 km dari bumi, melindungi bola ini dari energi mematikan.
Jika perisai pelindung ini tidak ada, kehidupan telah dimusnahkan oleh radiasi mematikan dari waktu ke waktu dan mungkin tak pernah terwujud sama sekali.

Ketepatan Atmosfer Bumi
Sifat fisik bumi, massa, struktur, suhu, dan seterusnya begitu tepat bagi kehidupan. Namun, sifat-sifat itu saja tidak cukup untuk memungkinkan kehidupan ada di bumi. Faktor penting lain adalah susunan atmosfer.
Atmosfer bumi terdiri dari 77% nitrogen, 1% oksigen, dan 1% karbon-dioksida. Mari kita mulai dari gas yang paling penting, yakni oksigen. Oksigen begitu penting bagi kehidupan, karena gas ini terlibat dalam sebagian besar reaksi kimia yang melepaskan energi yang dibutuhkan setiap makhluk hidup.
Senyawa karbon bereaksi dengan oksigen. Hasil reaksi ini adalah air, karbondioksida, dan energi. Ikatan kecil energi yang disebut ATP (adeno-sine triphosphate), yang digunakan oleh sel hidup dihasilkan dari reaksi ini. Karena inilah kita selalu memerlukan oksigen untuk hidup, dan bernafas untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Bahwa kadar oksigen di atmosfer saat ini bertahan pada nilai yang tepat, adalah berkat sistem “daur ulang” yang luar biasa: Binatang terus-menerus menghirup oksigen dan menghasilkan karbondioksida, yang bagi mereka tidak dapat digunakan untuk bernafas. Tumbuhan mela-kukan tepat sebaliknya: Mereka menghirup karbondioksida yang mereka perlukan untuk hidup, dan sebaliknya mengeluarkan oksigen. Berkat sistem ini, kehidupan terus berlanjut. Tumbuhan melepaskan jutaan ton oksigen ke atmosfer setiap hari. Tanpa kerjasama dan keseimbangan dari dua kelompok makhluk hidup yang berbeda ini, planet kita tidak mungkin dijadikan tempat hidup.

Keseimbangan yang Memungkinkan Kehidupan di Bumi
Ahli astronomi Amerika membuat daftar tentang faktor yang menentukan bagi kehidupan, antara lain sebagai berikut:

Gravitasi di Permukaan:
Jika lebih kuat: atmosfer menahan terlalu banyak amonia dan methana.
Jika lebih lemah: atmosfer planet akan terlalu banyak kehilangan air.
Jarak dengan Bintang Induk (Matahari):
Jika lebih jauh: planet akan terlalu dingin bagi siklus air yang stabil.
Jika lebih dekat: planet akan terlalu panas bagi siklus air yang stabil.

Ketebalan Kerak Bumi:
Jika lebih tebal: terlalu banyak oksigen berpindah dari atmosfer ke kerak bumi.
Jika lebih tipis: aktivitas tektonik dan vulkanik akan terlalu besar.

Periode Rotasi:
Jika lebih lama: perbedaan suhu pada siang dan malam hari terlalu besar.
Jika lebih cepat: kecepatan angin pada atmosfer terlalu tinggi.
Interaksi Gravitasi dengan Bulan:
Jika lebih besar: efek pasang-surut pada laut, atmosfer dan periode rotasi semakin merusak.
Jika lebih kecil: perubahan tidak langsung pada orbit menyebab-kan ketidakstabilan iklim.

Medan Magnet:
Jika lebih kuat: badai elektromagnetik terlalu merusak.
Jika lebih lemah: kurang perlindungan dari radiasi yang mem-bahayakan dari bintang.
Albedo (Perbandingan antara cahaya yang dipantulkan dengan yang diterima pada permukaan):
Jika lebih besar: zaman es tak terkendali akan terjadi.
Jika lebih kecil: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi.
Perbandingan Oksigen dengan Nitrogen di Atmosfer:
Jika lebih besar: fungsi hidup yang maju berjalan terlalu cepat.
Jika lebih kecil: fungsi hidup yang maju berjalan terlalu lambat.
Kadar Karbondioksida dan Uap Air dalam Atmosfer:
Jika lebih besar: efek rumah kaca tak terkendali akan terjadi.
Jika lebih kecil: efek rumah kaca tidak memadai.

Kadar Ozon dalam Atmosfer:
Jika lebih besar: suhu permukaan bumi terlalu rendah.
Jika lebih kecil: suhu permukaan bumi terlalu tinggi; terlalu banyak radiasi ultraviolet.

Aktivitas Gempa:
Jika lebih besar: terlalu banyak makhluk hidup binasa.
Jika lebih kecil: bahan makanan di dasar laut (yang dihanyutkan aliran sungai) tidak akan didaur ulang ke daratan melalui peng-angkatan tektonik.64
Ini hanya sebagian “keputusan rancangan” yang harus dibuat agar kehidupan ada dan bertahan. Namun sesedikit ini pun cukup untuk menunjukkan bahwa keberadaan bumi bukan karena kebetulan, tidak juga terbentuk oleh serangkaian kejadian acak. Hanya Allah yang menciptakan alam semesta, bintang, planet, pegunungan, dan laut dengan sempurna, memberikan kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, dan menempatkan ciptaan-Nya di bawah kendali manusia. Allah dan hanya Allah, sumber pengampunan dan kekuasaan, cukup berkekuatan untuk menciptakan sesuatu dari kehampaan.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Kesan umum luas dan megahnya alam semesta diperoleh penghuni Bumi dengan memandang langit malam yang cerah tanpa cahaya Bulan. Langit tampak penuh taburan bintang yang seolah tak terhitung jumlahnya. Struktur dan luas alam semesta sangat sulit dibayangkan manusia, dan perubahan persepsi dan rasionalitas manusia tentang itu memerlukan waktu berabad-abad.
Bumi merupakan salah satu planet yang ada di alam semesta ini. Bumi adalah satu-satunya tempat di mana manusia dapat hidup dan bertahan tanpa alat bantu, berkat tanah dan air yang melimpah serta atmosfer yang dapat dihirup untuk bernafas.
Suhu dan atmosfer adalah unsur penting pertama bagi kehidupan di bumi. Planet biru ini memiliki dua hal, baik suhu yang memungkinkan untuk hidup maupun atmosfer yang dapat digunakan makhluk hidup untuk bernapas.
Medan magnet bumi berperan penting bagi kehidupan. Medan magnet ini berasal dari struktur inti bumi. Inti bumi terdiri dari unsur-unsur berat seperti besi dan nikel yang mampu menahan muatan magnet. Medan ini melindungi bumi dari radiasi merusak yang berasal dari angkasa luar.
Atmosfer bumi terdiri dari 77% nitrogen, 1% oksigen, dan 1% karbon-dioksida. Mari kita mulai dari gas yang paling penting, yakni oksigen. Oksigen begitu penting bagi kehidupan, karena gas ini terlibat dalam sebagian besar reaksi kimia yang melepaskan energi yang dibutuhkan setiap makhluk hidup.
Hanya Allah yang menciptakan alam semesta, bintang, planet, pegunungan, dan laut dengan sempurna, memberikan kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, dan menempatkan ciptaan-Nya di bawah kendali manusia. Allah dan hanya Allampaan , sumber pengampunan dan kekuasaan, cukup berkekuatan untuk menciptakan sesuatu dari kehampaan


Minggu, 01 November 2009







Buton dalm wajah indahnya..........dilihat dari segala sudut.. masih jauh dari pencemaran udara. masih steril...

wajah kotaku









CiNtA

Sebagian orang mengatakan cinta ya cinta nafsu mah lain lagi..... tapi disini aq ngga akan ngejeskan panjang lebar tentang nafsu...yook kita sama-sama koreksi diri d mn sebenarnya letak cinta kita...
coba kalian simak kisah di bawah ini,, ini kisah nyata cuma nama dan tempatnya sengaja aku samarkn....
sebut saja namanya rina, dy baru kelas 2 smp sekilas dy tampak seperti gadis lugu yang ngga tau apa2...setip hr berangkat ke sekolah dan plang saat smua siswa yang lainnya pulang.... ngga ada yang aneh kan????......
sampai suatu hari dy mulai keliatan agak pucat..yang ternyata dy hamil spontan sj smua orang kaget,,,koq bisa seh....dy santai sj menjawab" smua karena aq sangat mencintai dia....."
seiring berjalanya waktu masalah mulai muncul....laki-laki yang di harapkan jadi pendamping hidupnya kelak,,kabur,, entah kemna,,,......tinggalah rina seorang diri merenungi nasib yang ngga tau mesti d bawa ke mn....smakin lm kndgan rina mulai membesar... dy mulai jarang bergaul.. bahkan sdh ngga pernah sama sekali... tiba-tiba aja ada banyak orang d dpn rmh rina,, ini bkn acara pernikahan,,.. Tapi acara pemakaman... Rina mengakhiri hidupnya di tiang gantungan...."nauzubillah'' apa hanya rina yang merasakan penderitaan itu????
tentu saja tidak.... Kedua orang tua rina yang orang terpandang hrs menangung malu dari perbuatan anaknya.....karena tak kuasa menangung smua itu...akhirnya ayah rina jatuh sakit... dan akhirnya meninggal dunia,... tengan trus gimana dgn ibunya??? ibunya jg ikutan goblok atau mungkin ngga sanggup menghadapi semuanya sendirian,,,hingga nekat minum racun tikus.....
coba deh sob kita petik hikmah dari kisah rina,, menurut kalian siapa yang salah....cinta....cinta ngga slh apa2,, cm cara rina menjalani cinta itu yang slah,,,mungkin ada yang ngga sependapat sama aq its oke... itu wajar karena stiap manusia punya eksitensi beda-beda.......
coba deh tanya sm hati kecil kalian mengapa smua itu bisa terjadi....
untuk mengetahui kadar cinta kalian..aq akan membagi kriteria cinta...
1. cinta suci "cinta suci hanya cinta kita kepada sang khaliq.... saat kita mencintai seseorang karena allah itulah cinta suci yang sebenarnya...."
2. cinta awam " cinta ini hanya mejalaninya saja tapi ngga tau kenapa mengapa dan untuk apa cinta itu...
3. cinta biasa" pada cinta ini saat menjalaninya biasa2 aja tuh,,.ketemu buat hepi-hepian aja... dan ngga pernah mikirin masa depan...cinta buat hepi-hepian gengsi katanya klo ngga punya pacar...''
4. cinta hewan " pada cinta ini hanya memikirkan pelampiasan nafsu semata... cinta hanya sebagai topeng so..... hati-hatilah dengan gy cinta ini...klw masih sayang sm diri kalian..."
5. cinta mati " kalian pasti pernah dengar tentang cinta mati... pada cinta ini orang berani melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia inginkan... bahkan nyawapun rela dy korbankan buat pujaan hati belahan jantung katanya,,......cenderung berpikir tanpa logika yang ada dalm benak hanya cinta dan cinta....''
6. cinta nafsu " pada cinta ini yang mereka pikirkan hanya bagaimana cara melampiaskan nafsu tampa memandang cinta itu sendiri... cinta hanya topeng padahal tujuanya hanya agar nafsu bejatnya tersalurkan...kadang pula tanpa segan-segan melakukan pemaksaan,,...

oke sob jd bwt milih pasangan buat jjs pilah-pilah dulu deh................
jangan sampai kalian terjebak pada cinta yang slma ini kalian hidari........