|
Kadis Kebudayaan dan Parawisata Provinsi Sultra, Ibrahim Marsela, di Kendari, Jumat mengatakan, kegiatan Festival Budaya Sultra itu akan berlangsung selama lima hari (28 November hingga 2 Desember 2009).
"Pembukaan festival budaya tahun 2009 ini akan dilakukan langsung oleh Gubernur Sultra, H Nur Alam," katanya.
Ia mengatakan, lima etnis suku yang ada di Sultra adalah Tolaki yang mendiami Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan dan Konawe Utara, Sementara etnis Buton meliputi Kabupaten Buton, Kota Baubau dan Wakatobi dan sebagaian di Kabutaen Buton Utara.
Etnis Kabupaten Muna mendiami Kabupaten Muna dan sebagian lainnya di Kabupaten Buton Utara. Etnis Mekongga mendiami Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara dan etnis Morone di Kabaupaten Bombana.
Menurut Marsela, ke-15 tari dan seni tradisional yang akan mewarnai festival budaya adalah tari Kalego, Balumpa dan Aleonda (Buton), tari Lulu Alu, Lumense dan Morengku (Moronene).
Kemudian tari Dinggu, Tina dan Sumaku (Mekongga), tari Karada, Ore-ore dan Ulo Nggaluku (Tolaki), tari Potobo, Linda dan Lanterasi (Muna).
Sementara untuk festival seni tradisional diantaranya musik bambu dan kecapi tradisional dari masing-masing kabupaten.
Ia mencontohkan, tari Linda dari Kabupaten Muna, dimana seni tari itu akan menggambarkan kegiatan para gadis-gadis Muna di dalam penjalankan upacara "kariya" (pingitan) sebagai gadis yang akan masuk pada usia remaja (akil balig).
Gadis-gadis yang dipingit itu mendapat petuah-petuah dari para pemangku adat agar kelak menjadi sebagai wanita yang mempunyai etika moral, sopan santun dan memiliki budi pekerti yang luhur.
Begitu pula dengan tari Karada dari etnis Tolaki, dimana tarian ini yang dimaknai dengan tombak-tombak yaitu alat perang tadisional yang digunakan pada zaman dahulu kala untuk mempertahankan daratan Konawe dan Mekongga.
Alat ini dipergunakan oleh pejuang laki-laki maupun perempuan.
Dan tarian Karada ini menggambarkan ketangkasan dan kelincahan para pejuang perempuan dan laki-laki mempertahankan negerinya. Biasanya tari ini dipersembahkan pada acara resepsi kenegaraan untuk mengenang jasa pahlawan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
"Kita harap dengan festival budaya tradisional ini, akan memberikan nilai tambah bagi daerah dan terutama menumbuhkembangkan rasa cinta dan memiliki bagi generasi muda untuk terus melestarikan budaya daerah," kata Ibrahim Marsela.
Etnis Sulawesi Tenggara
Berdasarkan pendekatan ethnolinguistik, telah teridentifikasi sedikitnya 22 jumlah etnis Sulawesi Tenggara. Berikut ini nama-nama etnis itu dan penjelasannya:
1. Bajau 12. Moronene
2. Busoa 13. Muna
3. Cia-Cia 14. Pancana
4. Kaimbula 15. Rahambuu
5. Kamaru 16. Taloki
6. Kioko 17. Tolaki
7. Kodeoha 18. TukangBesi North
8. Kulisusu 19. TukangBesi South
9. Kumberaha 20. Waru
10. Lasalimu 21. Wawonii
11. Liabuku 22. Wolio
1. BAJAU (Badjaw, Badjo, Bajo, Bajao, Bayo, Gaj, Luaan, Lutaos, Lutayaos, Sama, Orang Laut, Turije’ne’) 50,000 di seluruh negeri (1977 Pallesen SIL); 25,000 di Sulawesi Tengah (1979 Barr); 8,000 hingga 10,000 di Sulawesi Selatan (1983 C. Grimes SIL); 5,000 atau lebih di Maluku Utara (1982 C. Grimes SIL); beberapa ribu di Nusa Tenggara (1981 Wurm dan Hattori). Di Sulawesi Selatan di kabupaten Selayar, Bone, dan Pangkep. Di pantai timur Sulawesi Tenggara di Wowonii, Muna, Buton gaian utara, Kabaena, Kepualuan Tukang Besi bagian utara. Tersebar luas di seluruh Sulawesi, Maluku Utara (Bacan, Obi, Kayoa, dan Pulai Sula), Kalimantan, dan pulau-pulau di Laut Sunda Timur. Bahasa Bajau yang lain ada di Sabah, Malaysia, dan Philippina bagian selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sama-Bajaw, Sulu-Borneo, Borneo Coast Bajaw. Dialek: Jampea, Same’, Matalaang, Sulamu, Kajoa, Roti, Jaya Bakti, Poso, Tongian 1, Tongian 2, Wallace. Dikenal sebagai Bayo dan Turijene dalam Bahasa Makassar. Dikenal sebagai Bajo dalam bahasa Bugis. Mungkin mencakup beberapa bahasa. Bahasa agak kasar dipergunakan di Maluku Utara. Ada sekolah di beberapa desa. Mereka tinggal di suatu rumah yang dibangun dil laut. Akses dengan laut. Teluk kecil, pulau, karang, Orang laut. Muslim, agama tradisional.
2. BUSOA 500 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, Kecamatan Batauga, pantai barat daya Pulau Buton, sebelah selatan wilayah Katobengke-Topa-Sulaa-Lawela. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. 84% kemiripan bahasa dengan Kambe-Kambero, 70% hingga 79% dengan dialek Muna, 71% dengan Muna, 76% dengan Lantoi. Kambe-Kambero berbagi inovasi dengan Kaimbulawa, dan mungkin bukan dialek Busoa. Muslim.
3. CIA-CIA (Buton Selatan, Butung Bagian Selatan, Buton, Orang Buton, Boetoneezen) 15,000 (1986 SIL). Sulawesi Tenggara, Pulau Buton bagian selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. Dialek: Kaesabu, Sampolawa (Mambulu-Laporo), Wabula, Masiri. 93% kemiripan bahasa dengan Masiri, 74% dengan Kambe-Kambero, 69% dengan Busoa, 67% dengan Lantoi, 66% dengan Liabuku, 61% dengan Wolio, 60% dengan Muna. Dialek Wabula memiliki sub-dialek Wabula, Burangasi, Wali, Takimpo, Kondowa, Holimombo. “Cia-Cia” adalah nama yang sering digunakan, meskipun itu terminologi negatif. Muslim.
4. KAIMBULAWA 1,500 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, bagian Pulau Siompu. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Lantoi, Kambe-Kambero. Suatu bahasa tersendiri; bukan dialek Muna atau Cia-Cia. 96% lkemiripan bahasa dengan Lantoi, 75% dengan Busoa, 64% hingga 74% dengan dialek Muna, 64% dengan Muna, 70% dengan Liabuku, 66% dengan Cia-Cia, 58% dengan Wolio, 45% dengan Kaledupa. Muslim.
5. KAMARU 2,000 (1979 Burhanuddin). Pulau Buton bagian tenggara, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. 68% kemiripan bahasa dengan Lasalimu, 67% dengan Wolio, 54% dengan Cia-Cia, 51% dengan Pancana, 49% dengan Tukangbesi, 45% dengan Muna. Muslim.
6. KIOKO 1,000 (1991 René van den Berg SIL). Sulawesi tenggara, Kecamatan Kulisusu di Pulau Buton. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Kioko, Kambowa. Dilaporkan menjadi bahasa tersendiri. Mungkin merupakan bagian bahasa Pancana. 82% kemiripan bahasa dengan Kambowa, 81% dengan dialek Laompo Muna, 74% dengan Muna, 75% dengan Liabuku dan Busoa. Muslim.
7. KODEOHA (Kondeha) 1,500 (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, kabupaten Kolaka, Kecamatan Lasusua, pantai barat Kolaka. 4 desa. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. 75% kemiripan bahasa dengan Rahambuu; 70% dengan Tolaki, Mekongga, dan Waru; 54% dengan kelompok Mori dan Bungku. Bahasa Bugis digunakan sebagai bahasa kedua. Muslim.
8. KULISUSU (Kalisusu, Kolinsusu, Kolensusu) 22,000 (1995 SIL). Sulawesi Tenggara, Kecamatan Kulisusu dan Bonegunu di Pulau Buton bagian utara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. 81% kemiripan bahasa antara dialek, 77% dengan Taloki, 75% dengan Koroni, 66% dengan Wawonii dan Bungku, 65% dengan Moronene, 54% dengan Mori dan Tolaki. Muslim.
9. KUMBERAHA 250 (1995 SIL). Kecamatan Lasalimu di Buton tenggara. Tidak terklasifikasi. Muslim.
10. LASALIMU 2,000 (1979 Bhurhanuddin). Bagian tenggara Pulau Buton Island, Kecamatan Lasalimu, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. 68% kemiripan bahasa dengan Kamaru, 64% dengan Cia-Cia, 57% dengan Tukangbesi, 51% dengan Pancana, 50% dengan Wolio dan Muna. Muslim.
11. LIABUKU 500 hingga 1,500 mungkin (1991 R. van den Berg SIL). Sulawesi Tenggara, satu desa, utara Baubau di Kecamatan Bungi dan Kapontori, Buton selatan. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Cukup berlainan dari Muna; mungkin bagian dari Bahasa Pancana. 82% kemiripan bahasa dengan dialek Burukene Muna, 72% hingga 76% dengan dialek Muna, 72% dengan Muna, 75% dengan Kioko. Muslim.
12. MORONENE (Maronene) 31,000, termasuk 20,000 di Moronene, 11,000 di Tokotu’a (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Buton. Dialek Tokotu’a di Pulau Kabaena, Wita Ea di daratan Kabupate Buton berhadapan dengan Kabaena, dengan Sub-dialek Rumbia di kacamatan Rubia, dan sub-dialek Poleang di Kecamatan Poleang, Poleang Timur, dan Watubangga, Kabupaten Kolaka. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. Dialek: Wita Ea (Rumbia, Poleang, Moronene), Tokotu’a (Kabaena). Dialek Moronene mempunyai 80% kemiripan bahasa dengan Tokotu’a; 68% dengan Wawonii-Menui, 66% dengan Kulisusu, 65% dengan Taloki, Koroni, Tulambatu, 64% dengan Bungku, dan 57% dengan Tolaki. Dulunya ada kerajaan. Muslim, Kristen.
13. MUNA (Wuna, Mounan) 227,000 (1989 van den Berg), termasuk 600 di Ambon (1985 SIL). 150,000 Standard Muna, 10,000 Tiworo, 7,000 Siompu, 60,000 Gumas (1989 van den Berg). Pulau Muna Sulawesi Tenggara, pantai barat daya Pulau Buton, dan Ambon, Maluku Tengah. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Standard Muna (Muna utara), Gumas (Muna selatan), Siompu, Tiworo (Muna timur). Wuna adalah nama pribadi. 71% kemiripan bahasa dengan Pancana, 62% dengan Cia-Cia, 52% dengan Wolio, 50% dengan Lasalimu, 47% dengan Tukangbesi, 45% dengan Kamaru. Sub-dialek Standard Muna adalah: Tungkuno, Kabawo, Lawa, Katobu, Tobea Besar; Gumas adalah: Gu, Mawasangka, Lakudo, Wale-Ale, Lawama, Kadatua, Lowu-Lowu, Kalia-Lia, Katobengke, Topa, Salaa, Lawela, Laompo, Burukene. Muslim, Kristen.
14. PANCANA (Pantjana) 15,000 (1979 Bhurhanuddin). Sulawesi Tenggara, dekat Muna, Pulau Buton tengah. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Muna. Dialek: Kapontori, Kalende (Lawele), Labuandiri. Nama dialek juga menempati nma. 71% kemiripan bahasa dengan Muna, 57% dengan Cia-Cia. Mungkin lebih dari satu bahasa; Muslim.
15. RAHAMBUU (Wiau, Wiaoe) 5,000 (1991 SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kolaka, Kecamatan Pakue, pantai barat Kodeoha. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. 87% kemiripan bahasa diantara dialek, 75% dengan Kodeoha, 70% dengan Tolaki, Mekongga, dan Waru; 54% dengan Mori dan Bungku. Muslim.
16. TALOKI (Taluki) 500 (1995 SIL). Sulawesi Tenggara, pantai barat daya Pulau Buton, Kecamatan Wakorumba, Desa Maligano, dan mungkin beberapa di Pulau Buton Selatan, Kecamatan Kapontori, Desa Wakalambe. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki. 77% kemiripan bahas dengan Kulisusu; 75% dengan Koroni; 66% dengan Wawonii, Bungku, Tulambatu; 65% dengan Moronene. Para penutur dilaporkan memiliki dwibahasa yang dtinggi di Muna. Muslim.
17. TOLAKI (To’olaki, Lolaki, Lalaki, Laki, Kolaka, “Noie”, “Noihe”, “Nehina”, “Nohina”, “Nahina”, “Akido”) 281,000, termasuk 230,000 Konawe, 50,000 Mekongga, 650 Asera, lebih sedikit dari 100 Wiwirano, 200 Laiwui (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Kendari dan Kolaka. Mekongga di Pegunungan Mekongga di pinggiran barat dekat Soroako. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. Dialek: Wiwirano, Asera, Konawe (Kendari), Mekongga (Bingkokak), Norio, Konio, Tamboki (Tambbuoki), Laiwui (Kioki). Wiwirano memiliki 88% kemiripan bahasa dengan Asera, 84% dengan Konawe, 85% dengan Mekongga, 81% dengan Laiwui, 78% dengan Waru, 70% dengan Rahambuu dan Kodeoha, 54% dengan Mori dan Bungku. Mekongga memiliki 86% kemiripan dengan Konawe, 80% dengan Laiwui. Tes kejelasan dibutuhkan dengan dialek yang tersusun diatas, Mekongga, dan Waru. Nama-nama negatif tidak lagi dipergunakan. Wiwirano hanya dituturkan oleh para tetua. Kamus. Tatabahasa. Muslim, Kristen.
18. TUKANGBESI NORTH (Wakatobi) 120,000 termasuk 60,000 di Maluku (1995 SIL); beberapa ratus di Singapore. Pulau-pulau bagian utara Kepulauan Tukangbesi, Kaledupa dan Wanci, beberapa ratus di Singapore dan Kota Baubau; di Bacan, Taliabu, Mongole, Buru, Sulabesi, Seram, dan Pulau Ambon di Maluku; Irian Jaya; dan Sumbawa. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Tukangbesi-Bonerate. Dialek: Kaledupa (Kahedupa), Wanci (Wanji, Wantji, Wanje, Wangi- Wangi). 80% kemiripan bahasa antara Kaledupa dan Wanci; mungkin bahasa terpisah. 70% hingga 75% dengan Tukangbesi Selatan, 48% dengan Lasalimu, 47% dengan Cia-Cia, 40% dengan Kamaru, rata-rataf 35% dengan bahas-bahasa tetangga. Muslim.
19. TUKANGBESI SOUTH (Tukang-Besi, Wakatobi) 130,000 termasuk 100,000 di Maluku (1995 SIL). Pulau-pualu selatan Kepulauan Tukangbesi, (Binongko dan Tomea); Taliabu, Mongole, Sulabesi, Buru, Seram, Ambon, dan Kapulauan Alor di Maluku; Dialek Bonerate di Bonerate, Madu, Kalaotoa, dan Pulau Karompa di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan; banyak pemukiman di seluruh Irian Jaya Barat. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Muna-Buton, Tukangbesi-Bonerate. Dialek: Binongko, Tomea (Tomia). Binongko memiliki 85% kemiripan bahasa dengan Tomea, 81% dengan Bonerate, Tomea 79% dengan Bonerate. 70% hingga 75% dengan Tukangbesi Utara, 48% dengan Cia-Cia, 49% dengan Lasalimu, rata-rata 35% dengan bahasa tetangga. Muslim.
20. WARU (Mopute, Mapute) 350 (1991 SIL). Sulawesi Tenggara, Kabupaten Kendari, Kecamatan Asera, Desa Mopute dekat Sunga Lindu. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Tolaki. Dialek: Waru, Lalomerui. Dialek Waru memiliki 86% kemiripan bahasa dengan Lalomerui, 79% dengan Dialek Tolaki dan Mekongga, 70% dengan Rahambuu dan Kodeoha, 54% dengan kelompok Mori dan Bungku. Test kejelasan dibutuhkan dengan Bahasa Tolaki. Muslim.
21. WAWONII (Wowonii) 22,000, termasuk 14,000 Wawonii, 7,500 Menui (1991 D. Mead SIL). Sulawesi Tenggara, Pulau Wawonii dan Menui dekat Kendari. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia Barat, Sulawesi, Sulawesi Tengah, Tengah Barat, Bungku-Mori-Tolaki, Bungku. Dialek: WAWONII, MENUI. 75% kemiripan bahasa dengan Bungku dan Tulambatu; 66% dengan Taloki, Kulisusu, dan Koroni; 65% dengan Moronene. Muslim.
22. WOLIO (Baubau, Buton, Butung, Butonese, Boetoneezen) 25,000 to 35,000 (1990). bagian barat daya Pulau Buton di Bau-Bau dan masyarakat sekitar, Sulawesi Tenggara. Austronesia, Malayo-Polynesia, Malayo-Polynesia, Sulawesi, Muna-Buton, Buton. Wolio adalah bahasa yang dipakai di istana Sultan di Baubau dan masyarakat sekitar, dan dahulu digunakan oleh para bangsawan di wilayah ini. Bahasa daerah resmi. Memiliki dasar tulisan Bahasa Arab. Nama ‘Buton’ biasanya digunakan secara umum di Sulawesi Tenggara untuk mengacu ke Wolio; di luar Sulawesi Tenggara mengacu kepada orang-orang dari Sulawesi Tenggara, atau kadang-kadang membingungkan dengan Orang Bajo sebagai pelayar. 61% kemiripan bahasa dengan Cia-Cia, 60% dengan Masiri dan Lantoi. Survey dialek dibutuhkan di Buton Selatan dan Tengah, Bungi, Sorawolio, Kapontori, Pasar Wajo, Sampolawa, Betoambari, dan Batauga. Bahasa perdagangan. Muslim.
Sumber; http://www.idrap.or.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar